Faktor yang Menyebabkan Rasa Jenuh Dalam Bekerja

Jenuh bekerja

Sejujurnya bekerja selama 12 tahun itu ternyata jenuh juga. Kita adalah manusia biasa yang memiliki emosi dalam diri ini. Kita bukan patung yang bersedia menerima segala konsekuensi dalam hidup ini tanpa ekspresi sedikitpun. Manusia membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup. Bertahan hidup agar bisa makan, minum dan memenuhi kebutuhan lainnya seperti layaknya manusia.

Dulu saya begitu mencintai dan menikmati bekerja di perusahaan yang sekarang mempekerjakan diri saya. Bangun tidur selalu merasa semangat dan siap untuk menghadapi hari di kantor. Bahkan 6 hari dalam sepekan seolah kurang dalam hidup saya saking semangatnya saya bekerja.

Namun sekarang, bahkan satu hari pun terasa sangat lama sekali. Bangun tidur terasa berat untuk membuka mata. Akhir pekan terasa cepat berlalu. Tapi apakah saya harus menyerah begitu saja ? Tentu tidak, karena pekerjaan sekarang ini merupakan sumber nafkah utama saya. Meskipun sudah bersuami, dimana tanggung jawab nafkah ada pada suami, namun saya merasa wajib bertanggung jawab untuk menafkahi diri sendiri. Perkara nafkah suami, itu lain soal.

Bekerja walaupun itu merupakan sebuah kewajiban dalam upaya mencari nafkah, namun tetap harus dilakukan dengan sepenuh hati. Bekerja bagi sebagian orang bisa jadi merupakan tekanan atau bahkan penderitaan. Namun saya ingin agar bekerja merupakan sebuah aktualisasi dari segala pencapaian ketika menuntut ilmu di perguruan tinggi. Idealiskah saya? Sebenarnya tidak juga sih, antara idealis dan realistis.

Faktor apa saja yang menyebabkan seseorang merasa jenuh di pekerjaannya, berikut saya uraikan:

  • Job Description pekerjaan yang sudah menyimpang jauh

Mungkin awalnya Anda adalah seorang karyawan yang ditugaskan sebagai staf administrasi yang merangkap sebagai kasir. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata ada penambahan deskripsi pekerjaan untuk Anda sebagai marketing, sehingga harus ada target yang harus dikejar.

Awalnya Anda merasa senang dengan tugas baru sebagai marketing, namun di kemudian hari ternyata pimpinan meminta target besar yang harus dicapai, sementara Anda tidak hanya fokus di bagian marketing saja. Anda mulai merasakan tekanan kerja yang besar dan juga mudah stress karena tak kunjung dapat omset penjualan.

  • Tidak diapresiasi oleh pimpinan

Terkadang pimpinan yang tidak mengapresiasi karyawan membuat kita menjadi tidak bersemangat dalam menyelesaikan pekerjaan. Bukannya bersikap kekanak-kanakkan, namun sebagai manusia terkadang kita butuh eksistensi untuk dihargai oleh orang lain, termasuk oleh pimpinan perusahaan tempat kita bekerja.

Pimpinan yang tidak mengapresiasi karyawan biasanya cenderung menekan bawahannya dan tidak memedulikan keberadaan mereka. Padahal karyawan itu merupakan aset perusahaan, yang harus dipelihara dengan sebaik-baiknya.

  • Lingkungan kerja yang toxic

Gaji yang besar terkadang tidak mempengaruhi kenyamanan seseorang bekerja di sebuah perusahaan. Lingkungan kerja toxic bisa membuat seorang karyawan stress dan justru jenuh dalam bekerja. Ada seseorang yang bekerja di lingkungan perusahaan dimana teman kerja saling sikut dengan cara kerja yang bisa dibilang kurang patut ditiru.

Melakukan mark up biaya operasional, sementara kondisi perusahaan sedang tidak baik-baik saja bagi saya merupakan sebuah bentuk kejahatan. Sayangnya, terkadang pimpinan perusahaan menutup mata akan hal tersebut dikarenakan yang melakukannya adalah saudara terdekatnya.

Mengatasi Kejenuhan Dalam Bekerja, Tetap Andalkan Akal Sehat

Jangan karena Anda jenuh di pekerjaan lantas terburu-buru ingin resign alias mengundurkan diri. Yang penting terbebas dari beban kerja yang berat dan lingkungan kerja toxic. Oh tidak begitu Marimar! Pikirkan secara matang dan dengan akal sehat bagaimana mengundurkan diri dari pekerjaan di saat yang pas.

Waktu yang tepat mungkin jadi solusi agar ketika Anda sudah resign, tidak menyesali hal tersebut. Saya pun demikian, ingin resign namun hanya omongan di bibir. Banyak yang harus dipersiapkan ketika seseorang memutuskan untuk resign, antara lain:

  • Dana Darurat yang Mencukupi

Ada seorang financial planner yang mengatakan jika kita ingin resign dari pekerjaan, maka setidaknya harus punya dana darurat sebesar 6 bulan gaji. Walau kelihatannya besar sekali, namun 6 bulan gaji merupakan perhitungan yang masuk akal.

Taruhlah Anda menganggur selama 3 bulan, lantas apakah tidak makan? Tidak membayar tagihan listrik, iuran kost dan kebutuhan bulanan lain? Tentu saja biaya kebutuhan bulanan tidak dapat ditawar, sementara jika kita menganggur, maka bayar pakai apa?

  • Pekerjaan Baru

Jika Anda merupakan tipe pekerja yang memang suka ikut orang alias menjadi karyawan, maka ada baiknya sebelum resign sudah punya pekerjaan baru sebagai batu loncatan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jeda memberi label Anda sebagai pengangguran.

Mencari pekerjaan baru tentu butuh waktu juga. Tidak semua posisi pekerjaan akan kita lamar bukan. Tentunya kita hanya melamar kerja sesuai klasifikasi atau kompetensi yang dimiliki. Taruhlah, Anda butuh waktu 2 bulan untuk dapat lolos ke posisi pekerjaan di sebuah perusahaan yang diinginkan, maka persiapkan rencana untuk resign jauh-jauh hari sebelumnya.

  • Buka Usaha Sendiri

Apabila Anda tipe orang yang tidak suka diatur, ingin punya kebebasan dalam hal pekerjaan maka solusi terbaik adalah membuka usaha sendiri. Menjadi wirausahawan tidak perlu menjadikan Anda takut dengan lingkungan kerja yang toxic. Hal ini dikarenakan, Andalah yang menciptakan lingkungan kerja itu sendiri mau jadi seperti apa.

Namun tentu saja, menciptakan lapangan kerja sendiri membutuhkan modal dan usaha yang extra keras dibanding ketika Anda bekerja di sebuah perusahaan alias ikut orang. Sekarang pilihan ada di tangan Anda pastinya.

Demikian sedikit penjelasan dari saya mengenai faktor apa saja yang menyebabkan rasa jenuh dalam bekerja. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version